Jika Suatu Saat Anakku Sekolah
Rabu, 25 April 2012 13:40 WIB
Share |
* Ferri Amiril, Wartawan Tribun

MIRIS
mendengar penuturan Asep Slamet (35) warga Kampung Cigiringsing, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Di tengah gencarnya pemerintah menggaungkan program pendidikan gratis, tiga orang anaknya, Fauzi (14), Sela (12), dan Zaki (7) terpaksa putus sekolah karena harus membantu mencari nafkah serta mengurus keluarga.

Mimpi Zaki untuk bermain bersama teman sebaya dan belajar di bangku sekolah dasar terasa masih berat. Begitu pula dengan Sela dan Fauzi yang seharusnya saat ini duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Zaki yang masih bocah harus berkeringat berpanas-panasan mengangkut batu bata membantu ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan. Demikian halnya dengan Sela, dalam usianya yang masih belia, ia harus mondar-mandir mengangkut air dengan ember dari sumur ke rumahnya untuk memasak. Beban Sela semakin berat. Pasalnya, tiga tahun lalu, ibunya pergi entah kemana meninggalkan rumah kayu dan bilik yang sudah doyong dan terletak di bibir tebing tersebut.

Dalam ruangan rumah tersebut tidak ada listrik serta minim sekali perabotan dan peralatan rumah tangga. Asep mengatakan, untuk menghibur keluarganya ia membeli sebuah radio kecil yang ia beli setahun lalu. Jika baterai radio tersebut habis, mereka hanya bisa mengobrol dan bermain untuk mengusir rasa sepi. Rumah Asep hanya berjarak 15 menit bahkan kurang dari Jalan Raya Ujungberung.

Kesunyian akan semakin terasa ketika malam tiba dan baterai radio habis, karena rumah Asep hanya memiliki penerangan dari damar yang kecil. Karena bangunan yang tidak begitu kuat, ia kerap mengungsi ke rumah tetangganya jika hujan disertai angin kencang terjadi. Namun jika hujan angin terjadi di malam hari mereka hanya bisa pasrah.

Perjuangan dan ketegaran Asep masih terlihat. Di tengah semakin meroketnya harga-harga kebutuhan pokok, keluarga Asep masih bisa hidup dengan bahan makanan seadanya. Jika tidak ada order untuk ikut mengerjakan bangunan, keluarga Asep sudah terbiasa makan dengan rebusan daun singkong dan rebusan daun pepaya. Ia bersyukur dan tidak mengeluh, kendati makan seadanya keluarganya masih diberikan kesehatan.

Dalam benaknya, sebagai kepala keluarga ia sangat ingin menyekolahkan semua anak-anaknya agar tidak bernasib sama seperti dirinya. Ia mengaku sudah sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Ia juga sangat menganggap penting arti pendidikan. Harapan agar anak-anaknya bisa bersekolah ia ucapkan dengan nada lirih.

Asep berkata, jika suatu saat anak-anaknya bisa sekolah, ia yakin di antara mereka pasti ada yang sukses. Ibarat pepatah, dari semua kayu yang ada, tidak akan bengkok semua, pasti ada yang lurus.

Fenomena keluarga Asep mungkin juga dirasakan oleh beberapa keluarga lain yang masih kekurangan, sehingga terpaksa menyuruh anaknya berhenti sekolah dan menyuruh anaknya mencari nafkah. Harapan lirih Asep semoga terdengar bergema. (*)

Penulis : fam
Editor : dar