Selasa, 9 Juni 2026

Gelombang Tinggi Landa Pesisir Situbondo

Setelah mereda selama hampir dua pekan, gelombang di selat Madura atau pesisir Utara Situbondo, Jawa Timur, kembali meninggi.

Tayang:
Editor: swo

SITUBONDO, TRIBUN - Setelah mereda selama hampir dua pekan, gelombang di selat Madura atau pesisir Utara Situbondo, Jawa Timur, kembali meninggi. Beberapa perahu tradisional yang digunakan para nelayan, Rabu (4/4) rusak dihantam gelombang.

Di pantai Pasir putih, perahu-perahu tradisional terlihat berjajar di tepian pantai. Biasanya perahu nelayan baru tertambat di pantai pada pagi dini hari atau sore setelah selesai melaut, namun menurut sejumlah nelayan perahu itu tak digunakan sama sekali hingga sore tadi.

"Kami tak berani melaut jauh, ombaknya tinggi, sampai dua meter di tengah. Kalaupun nekat nanti nasibnya seperti rekan-rekan kami yang perahunya bocor dihantam gelombang," kata Ahmad Jukri (33), nelayan di Blitok, Kecamatan Bungatan, Situbondo.

Setidaknya dua perahu nelayan memang menjadi korban gelombang selat Madura, Rabu dini hari. Lambung perahu bocor akibat tak tahan menahan empasan ombak.

Sukri (49), salah satu pemilik perahu mengatakan, gelombang tinggi dan cuaca buruk datang tiba-tiba. Pada sore hari kondisi langit masih cerah, namun saat melaut di tengah malam, mereka diterjang angin kencang dan gelombang tinggi. "Kami berusaha kembali ke darat, namun perahu terlanjur rusak," katanya.

Meski kondisi cuaca sulit ditebak, pelayaran kapal penumpang dari pelabuhan Jangkar menuju Kalianget di Sumenep dan Pulau Sapudi masih berjalan. Pelayaran penumpang diberangkatkan pada siang hari, saat gelombang mereda kembali.

Pelayaran kapal rakyat ke pulau Raas pun masih berjalan. Menurut Jatim, pengelola penyeberan gan kapal rakyat, pelayaran akan dihentikan jika sudah ada tanda bahaya atau pelarangan dari sahbandar Jangkar. Sejauh ini, gelombang tinggi belum mempengaruhi kapal dengan berat 30 gross ton lebih.

Di Muncar Banyuwangi, nelayan dengan perahu kurang dari 30 gross ton juga memilih untuk tidak melaut sementara. Samidi (40), salah satu nelayan tradisional Muncar mengatakan, cuaca kini susah ditebak. Pada siang hari, kondisi cerah namun sore hari turun hujan disertai angin kencang.

Kapal-kapal yang beroperasi hanya kapal besar berjenis slereg, yang beratnya lebih dari 30 gross ton. Tetapi kapal-kapal tersebut juga hanya melaut di sekitar selat Bali, karena khawatir gelombang tinggi akan muncul kembali. (kompas.com)

 
Sumber: Kompas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved