Maju Jurang Mundur Jungkrang
INDONESIA yang sekarang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dihadapkan pada situasi dilematis. Maju kena, mundur kena.
INDONESIA yang sekarang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dihadapkan pada situasi dilematis. Maju kena, mundur kena. Atau dalam bahasa Sunda, peribahasa yang tepat untuk menggambarkan bagaimana dilematisnya SBY dan politisi di DPR dalam mengambil keputusan terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), maju jurang mundur jungkrang.
Dilema itu tergambar dalam polemik tajam pada sidang paripurna pengambilan keputusan jadi tidaknya kenaikan harga BBM pada 1 April, serta suasana di luar sidang di kawasan Gedung DPR di mana peluru berdesingan dan demonstran kocar-kacir, serta dua pihak antara aparat dan pengunjuk rasa banyak yang babak belur. Di berbagai daerah tak kalah gentingnya, demo marak di mana-mana disertai aksi blokir jalan-jalan umum dan bakar ban bahkan kendaraan. Dilema itu lebih tergambar lagi saat SBY memberi tanggapan tadi malam atas hasil sidang paripurna DPR Jumat malam.
Maju jurang, mundur jungkrang. Nekat menaikkan harga BBM, rakyat memang akan kena dampaknya. Jumlah rakyat miskin dipastikan akan bertambah. Bahkan beberapa pengamat ekonomi memperkirakan, masyarakat yang pendapatannya baru naik ke kelas menengah akan melorot lagi ke kelas bawah. Daya belinya kembali melemah.
Namun jika BBM tetap dalam harga sekarang, Rp 4.500 per liter, seperti dijelaskan SBY tadi malam, APBN sudah pasti defisit. Anggaran untuk subsidi saja mencapai Rp 225 triliun. Angka ini tentu membuat APBN bocor akibat membengkaknya subsidi sehingga belanja modal untuk pembangunan, seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, menjadi terhambat. Lebih jauhnya perkenomian Indonesia bukan saja stag, tapi dikhawatirkan mendapat tekanan akibat kenaikan harga bahan minyak mentah dunia.
Memang menaikkan harga BBM itu sama sekali bukan niat pemerintah menyengsarakan rakyatnya. Tergambar dalam wajahnya yang muram dan berat, SBY menegaskan kebijakan menaikkan harga BBM itu untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia, bukan untuk menyengsarakan rakyat.
Tapi di sisi lain, selama ini pemerintah, melalui Menteri Keuangan, selalu memberi penjelasan kepada rakyat bahwa untuk menyelamatkan APBN 2012 itu hanya ada satu opsi, yakni menaikkan harga BBM pada 1 April 2012. Ternyata, meskipun berat dan dalam kondisi terpaksa untuk tidak menaikkan harga BBM hari ini, semalam SBY menyebutkan, untuk memperkuat APBN 2012 ia dan jajarannya akan mengintensifkan penerimaan di sektor pajak, sektor pertambangan, dan menghemat anggaran di semua lini, mulai dari kementerian sampai pemerintahan daerah. Kalau ini bisa dilakukan, mengapa poin-poin ini tak dijelaskan oleh Menteri Keuangan dan mengapa tak dilakukan sebagai sebuah budaya?
Tapi dari penjelasan SBY semalam, ada satu poin yang tidak dijelaskan, terlebih ditandaskan, yaitu komitmen untuk memberantas korupsi. Padahal pemberantasan korupsi ini sangat signifikan juga untuk memperkuat agar anggaran pemerintah tidak bocor. Bagaimana pemerintah bisa membudayakan hemat anggaran kalau penyakit korupsi tidak diberantas?
Rakyat sebetulnya memahami kesulitan pemerintah mengenai terbatasnya anggaran. Andai saja pemerintah sudah maksimal dalam memberantas korupsi, mafia pajak dibasmi, hemat anggaran benar- benar jadi budaya, ketika pemerintah menaikkan harga BBM sebagai jalan untuk menutup defisit, mungkin rakyat tak terlalu marah. Sedangkan sekarang, jika melihat gaya hidup pejabat saja sudah di luar kewajaran, sementara pemerintah selalu menambal APBN dengan menaikkan harga BBM yang dampaknya langsung ke rakyat kecil, jelas terasa kurang adil.
Memang betul harga BBM murah itu akhirnya banyak dinikmati orang kaya. Dalam soal ini, pemerintah seharusnya kreatif mencari cara agar orang kaya tidak banyak mengonsumsi BBM. Misalnya pembatasan kepemilikan kendaraan, atau menggalakkan pajak progresif.
Memang, soal menaikkan harga BBM selalu maju jurang mundur jungkrang karena BBM memiliki nilai politik tinggi. Maju dalam bahasa Sunda sama artinya dengan dalam bahasa Indonesia, yakni bergerak ke depan, jurang artinya juga sama, yakni lembah yang sempit dan dalam, mundur juga sama artinya dengan dalam bahasa Indonesia, yakni bergerak ke belakang, sedangkan jungkrang merupakan sinonim dengan jurang. (*)