Sandal
Selasa, 10 Januari 2012 14:32 WIB
Share |
photo/2011/12/5fd7d0d22833bde58e5e82c37b574f1f.jpg
DOKUMENTASI

SANDAL bukanlah kata asli Indonesia. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, sandalion, yang diserap ke bahasa Latin (sandalium), bahasa Prancis (sandale), dan seterusnya. Sandal memang bermula dari alas kaki orang Yunani dan Romawi Kuno. Saat itu sol dibuat dari gabus, sedangkan bagian penutup dibuat dari kulit yang disatukan dengan bagian alas dengan cara dijahit. Bagian jari kaki dibiarkan terbuka, dilengkapi dengan sabuk atau tali agar tidak terlepas dari kaki pemakai.

Kapan orang Indonesia pertama kali memakai sandal, atau alas kaki jenis lainnya? Tidak jelas. Konon raja Tarumanagara pada abad ketujuh sudah memakai semacam sandal. Cetakan berbentuk telapak kaki di permukaan prasasti Batu Tulis diduga kuat bukanlah bekas telapak kaki sang raja, misalnya karena kesaktiannya, melainkan cetakan untuk membuat sandal raja. Sayang memang tidak ada keterangan mengenai sandal seperti apa yang dibuat.

Masuk akal kalau para raja dan pembesar lainnya pada zaman sejarah sudah memakai sandal. Masa, sih, para putri bertelanjang kaki? Tapi wajar juga kalau saat itu kebanyakan rakyat tidak memakai sandal. Sebab, bahkan saat ini pun masih banyak orang Indonesia, terutama di kampung-kampung terpencil, terbiasa bertelanjang kaki.

Ada bermacam-macam sandal. Kelompen mungkin dekat dengan tradisi Jawa. Tapi kelompen berasal dari bahasa Belanda, klompen, selop kayu yang umumnya dipakai perempuan. Ada juga bakiak, sama-sama sandal dari kayu tapi dengan pengikat dari ban bekas, yang juga akrab dengan masyarakat kita meskipun tidak jelas kata bakiak berasal dari mana. Ada lagi patten, sandal kayu dari abad pertengahan di Eropa. Di Prancis ada espadrille, yang lebih tepat disebut sepatu yang umumnya dari kain. Di Meksiko ada huarache, sandal yang bagian penutup punggung kaki dan sabuk penahan bagian tumit dibuat dari anyaman kulit. Di Amerika ada mary jane, yang bagian jari kakinya tertutup dan sabuk penahannya ada di bagian tumit. Di Jepang ada zori, yang dibuat plastik, kain, atau anyaman rumput.

Zori ini umumnya berbentuk seperti sandal jepit yang biasa kita pakai. Sandal jepit memang kerap disebuat dengan sandal jepang. Boleh jadi dari negeri itulah sandal jepit berasal. Sandal jenis ini umumnya dibuat berwarna-warni dari karet atau karet sintetis. Talinya berbentuk huruf "V", yang menghubungkan bagian depan dan bagian belakang. Bagian bawah umumnya rata (tidak memiliki hak), sedangkan bagian atas tidak memiliki penutup.

Selain dipakai di dalam ruang atau kamar mandi, sandal jepit digunakan di luar rumah pada kesempatan tidak resmi dan kegiatan rekreasi seperti di pantai atau kolam renang. Anda akan dianggap kurang ajar, atau bahkan diusir, kalau hadir di sebuah resepsi memakai sandal jepit meskipun sandal jepit Anda berhiaskan mutiara.

Dari sekian banyak jenis sandal, boleh jadi sandal jepit menempati urutan terbawah dari segi harga. Dengan beberapa lembar seribuan, kita sudah bisa memperoleh sandal jepit baru. Namun bagi Anjar Adreas Lagaronda, harga sandal jepit sungguh mahal. Gara-gara dituduh mencuri sandal jepit milik seorang anggota kepolisian, siswa sebuah SMK di Palu, Sulawesi Tengah, ini harus duduk di kursi terdakwa di pengadilan. Ia sempat diancam lima tahun penjara. Oleh hakim ia memang dikembalikan kepada orang tuanya, tapi tetap dengan vonis bersalah.

Inilah wajah sesungguhnya dunia hukum di negeri ini. Rasa keadilan berbanding lurus dengan strata sosial dan tingkat ekonomi. Bagi pencuri ayam, kakao, dan ranting kayu, keadilan benar-benar barang  mewah. Tapi bagi para pengisap miliaran, atau bahkan triliunan, uang rakyat, betapa mudahnya memperoleh keadilan.

Untunglah masih banyak warga yang terusik rasa keadilannya. Mereka mengumpulkan ribuan sandal untuk diserahkan kepada kepolisian. Mungkin mereka menyindir polisi yang marah karena merasa kehilangan sandal. Tapi lebih luas lagi, gerakan pengumpulan ribuan sandal itu hendak menyindir polisi yang hanya bisa menangkap dan mengadili pencuri sandal.

Mestinya polisi tidak hanya merasa disindir, tapi juga ditampar. Ditampar dengan sandal, betapa memalukan! (*)
 


Editor : dna