Pétot Ményon Gé
Tindakan yang dilakukan oleh Jokowi merupakan wujud dari nasionalisme. Wali kota yang pernah dinobatkan sebagai kepala daerah yang bersih dan kinerjanya kinclong oleh majalah Tempo itu memang tak gemar main kata-kata. Dalam bekerja lebih banyak bertindak
KEBERHASILAN siswa SMK di Surakarta membuat mobil, yang kemudian dijadikan mobil dinas oleh Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi), dari perspektif nasionalisme harusnya dijadikan kebanggaan kita. Di tengah-tengah membanjirnya mobil produk Jepang, Korea Selatan, Eropa, dan bahkan Malaysia, diam-diam anak bangsa kita juga mampu membuat mobil. Sepantasnya kalau kita ikut bangga, terlebih saat ini seringkali pemerintah melakukan kampanye bangga dan cinta produk dalam negeri.
Tindakan yang dilakukan oleh Jokowi merupakan wujud dari nasionalisme. Wali kota yang pernah dinobatkan sebagai kepala daerah yang bersih dan kinerjanya kinclong oleh majalah Tempo itu memang tak gemar main kata-kata. Dalam bekerja lebih banyak bertindak daripada bermain lidah. Di sini memang bedanya Wali Kota Solo dengan kepala daerah lainnya.
Tapi rupanya kadar nasionalisme bangsa kita memang masih rapuh. Soal kebanggaan terhadap produk bangsa sendiri, masyarakat kita memang harus diedukasi. Kegemaran orang-orang berduit belanja ke Singapura, Hongkong, Paris, dan kota-kota wah lainnya di negara-negara maju, sepertinya ada perasaan telah mendongkrak status sosial. Mantan wakil presiden Jusuf Kalla paling getol mengedukasi, dengan memberikan contoh, misalnya memakai sepatu buatan Cibaduyut.
Dari komentar juga kita bisa melihat jalan pikiran seseorang. Bisa kita lihat sejauh mana nasionalisme seseorang. Dari kasus mobil karya siswa SMK Surakarta, ternyata nasionalisme para kepala daerah di Indonesia ini masih rapuh juga.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo misalnya. Ia mengkritik terhadap Wali Kota Solo dan wakilnya yang menggunakan mobil dinas karya siswa SMK. Wali Kota Semarang juga mengkritik Jokowi narsis. Sementara itu, Wali Kota Medan menghakimi mobil Esemka itu tidak akan tahan lama.
Di Kota Bandung, Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda ngadu geulis, dengan mengatakan di Kota Bandung pun sudah lebih dahulu anak-anak SMK membuat mobil, bahkan ada yang membuat pesawat terbang. Tentu saja kita ikut bangga. Namun Ayi tetap harus belajar kepada Jokowi, rasa bangganya jangan sebatas verbalisme, tapi harus action agar karya anak-anak siswa SMK di Bandung itu memiliki masa depan.
Para kepala daerah yang mengkritik Jokowi itu gagal membaca semangat Jokowi. Ia dan wakilnya, FX Hadi Rudyatmo, pasti sudah tahu mobil Esemka itu kualitasnya masih jauh dibandingkan dengan merek lain yang sudah ternama. Tapi substansi yang dilihat oleh Jokowi dan wakilnya bukan soal kualitas dan daya tahan mobil itu, melainkan menghargai karya anak bangsa. Cara menghargainya dengan tindakan nyata. Kalau rasa bangga itu hanya sekadar kata-kata, tak akan berdampak aka-apa. Sedangkan jika mobil itu langsung dijadikan mobil dinas, lalu banyak orang lainnya yang ikut menggunakan, produksi akan berlanjut.
Untung tidak semua seperti Gubernur Jateng dan Wali Kota Medan. Menko Kesra Agung Laksono kabarnya pesan 40 buah. Anggota DPR Bambang Soesatyo juga ikut membeli. Bahkan katanya sudah ada 673 orang yang memesan.
Langkah Jokowi, Hadi Rudyatmo, dan Agung Laksono patut diapresiasi. Kalau dalam peribasa Sunda, pétot ményon karya anak bangsa sendiri, maka kita harus menghargainya. Makna dari peribasa pétot ményon adalah jelek-jelek pun karya anak bangsa sendiri. (*)